My Story
It’s a boring story,, a normal story,, it’s my story,, yet,, it’s precious.
Twenty years already. Time sure go fast, didn’t it?
I always wandering how I got to be like this, I mean, at some point we’re going to wonder how can I become this kind of person, isn’t that concern you? Well, it sure concern me. So, let us begin.
Saya lahir di hari ini 20 tahun yang lalu pada sebuah pagi yang indah. Jelas pagi itu sangat ribut karena tangisanku (pasti nangis kan? Maksudku, hal pertama yang bayi lakukan adalah menangis, iya kan?) Hmm, itu adalah hal terbaik yang pernah diberikan orang tuaku, terutama ibuku. Meskipun saya tidak ingat, saya yakin saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.
Waktu jelas berlalu dengan cepat, karena, saya tidak begitu ingat apa yang terjadi hingga akhirnya sama masuk taman kanak-kanak. Hmm, masa kanak-kanakku cukup indah. Entah karena saya tidak ingat apa yang sedih atau karena memang tidak ada hal sedih yang terjadi. Saya ingat suatu hari di taman kanak-kanak kami di minta untuk mengumpulkan sampah untuk dibakar. Temanku yang bernama Rizat Mardana juga mengumpulkan sampah dan setelah itu dibakar. Setelah selesai membakar sampah dia mulai terlihat kebingungan karena kacamatanya hilang. Well, ternyata dia menaruh kacamatanya bersama tumpukan sampah yang ternyata telah terbakar. Hmm, akhirnya setelah itu dia tidak lagi memakai kacamata hingga SMA. Entah kenapa kenangan ini begitu jelas di ingatanku. Saya bahkan masih ingat expresi dia. Well, after all, he’s my best friend. (Hope he’s doing well now….)
Kenangan lain yang sangat saya ingat ialah saat kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Ulangan pertama yang saya rasakan. Itu ulangan terbodoh dan terlucu yang pernah saya jalani.
Saya masih ingat beberapa pertanyaannya dan apa jawabanku. Pertanyaan yang paling saya ingat ialah “Apa lambang negara kita (indonesia)?” Dan kalian tahu apa jawabanku? Saya melihat apa yang tergambar pada kantong baju seragam SDku dan apa yang tertulis disitu. Jelas yang tergambar disitu adalah sepasang siswa dan siswi SD dan sebuah tulisan “SD” yang sangat besar. Dan itulah jawabanku. Lambang negara kita adalah SD. As an Indonesian somehow I feel embarrassed. After all, I’m just a kid :p. Hasilnya? Saya hanya dapat juara 4 dikelas. Hehe..
But, I’m not unhappy. Karena, saya akhirnya bisa balas dendam pada kelas 2 sampai pada kelas 5 semester 1 dengan berhasil mendapatkan juara 1 secara berturut-turut. Hehehe…. (tiba-tiba sombong sendiri)
Tapi, kenapa hanya sampai pad semester 1? Bagaimana dengan semester 2? Well, unfortunately, saya harus pindah dari kampung asalku (sampolawa) ke Bau-Bau (rumahku sekarang). Hmm, banyak hal yang terjadi saat itu. Misalnya saat pertama saya harus mengurus semua urusan mengenai pindahan dan mencari kelas sendiri. Hmm,, itu sangat menjengkelkan. Saat harus masuk sendiri ke kelas yang isinya orang asing semua. Sampai akhirnya saya tidak masuk beberapa hari karena merasa tidak diurusi oleh pihak sekolah. Kemudian omku harus ngurusin biar saya bisa jelas kelasku dimana. Tapi masalah tidak hanya disitu saja. Ternyata murid-murid lain dikelas tidak menerima saya. Bahkan meminta saya untuk pindah ke kelas lain saja. Kalau saja gurunya tidak mempertahankan saya, saya pasti tidak akan berada di kelas itu. Akhirnya, karena hal ini, saya jadi pendiam dikelas. Sangat pendiam. Butuh waktu lama untuk murid-murid yang lain untuk bisa nerima saya. Hmm, tapi, saya cukup bersyukur karena bertahan. Sebab disitu saya mendapatkan sahabat lain yang sampai sekarang masih menjadi sahabatku. (I hope she’s fine now….)
Waktu cukup cepat berlalu hingga akhirnya sayapun SMP. Saya tidak terlalu yakin apa saya harus cerita tentang pengalaman SMPku atau tidak. Tapi karena ini satu-satunya autobiografi yang saya punya, maka, there’s no need to hold back. So, let’s begin.
Masa SMPku mungkin tergolong masa SMP yang normal, wajar, dan tidak ada yang istimewa. Yah, paling tidak itu yang orang lain anggap, tapi, untuk diri pribadi, tidak ada kenangan yang tidak istimewa. Maksudku, apa yang orang lain anggap tidak berharga dari saya, belum tentu itu tidak beharga untuk saya. Jadi, meskipun untuk orang lain ini biasa saja, tapi, untuk saya, ini tidak biasa.
Saya bersekolah di SMP Negeri 4 Bau-Bau. Saya masih ingat bagaimana kami mendaftar bersama-sama setelah lulus dari SD dan bagaimana bermasalahnya pendaftaranku karena saya mendaftar di dua SMP, keterima keduanya, dan harus mengundurkan diri dari salah satunya. Saya ingat betul apa yang dikatakan Ibuku saat itu, “bersekolah dimana saja akan sama, yang penting adalah bagaimana saya belajar”. Well, mungkin akan ada yang bilang, “yah nggak lah, pasti beda, contohnya belajar di harvard sama belajar di IT Telkom, bakal kerasa banget bedanya”. Well, maybe it’s true. Tapi, untuk saya, apa yang dikatakan ibuku lebih benar dan itu yang saya amalkan sampai sekarang. Lagi pula, sekolah di Harvard pun kalau belajarnya tidak benar, dijamin tidak akan berhasil. Hmm, we’re kinda off track. hehe…
Sorry. So, let’s continue.
Saat masuk kelas 1 (saya masih ingat waktu itu saya kelas 1-11) saya menjadi ketua kelas. Hmm, ini posisi yang benar-benar baru untuk saya. Saya harus menyesuaikan diri dengan posisi ini dan harus beradaptasi dengan kelas yang sangat ribut. Hmm, ada satu kejadian memalukan berkaitan dengan posisiku ini. Suatu hari, (kok jadi kayak dongeng??) guru Geografiku ada urusan dan saya diminta untuk menangani kelas, menjaga agar kelasnya tidak ribut, tapi, kelas itu terlalu ribut, saya benar-benar tidak bisa mengatur apa yang mereka lakukan, saya cuma bisa teriak dan meminta diam, tapi, tidak ada yang mendengarkan, dan tau apa yang terjadi? Saya menangis. (There I said it, please don’t laugh..
) Iya,, saya menangis. Itu peristiwa yang benar-benar memalukan. Bukan karena saya menangis, tapi, lebih karena saya tidak tahan melihat tatapan kasihan dari orang lain. (I hate that look since the first time I said it on Elementary School). Untuk saya, entah kenapa, tatapan itu lebih menjengkelkan dari pada hinaan.
Setelah semester dua, saya berpindah dari kelas 1-11 ke kelas 1-1 (SMPku menganut sistem “unggulan” yang berarti murid-murid yang dianggap mampu dipindahkan dalam satu kelas bersama – sistem yang cukup kejam menurut saya, karena, dengan demikian murid-murid yang tidak berada di kelas “unggulan” tidak mempunyai panutan untuk belajar di kelas). Jelas saya tidak lagi menjadi ketua kelas, lebih banyak yang berkompeten untuk itu dikelas 1-1 dibanding saya.
Saya butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ini (saya memang susah beradaptasi dengan lingkungan baru). Saat istrahat saya biasa ke kelas yang lama (1-11) atau baca buku, agak jarang untuk saya keluar ke kantin seperti yang lainnya. Kondisi seperti itu cukup berjalan lama. Tapi, kemudian saya akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu dan mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman yang cukup menyenangkan.
Saya sangat ingat teman sebangku pertamaku itu. Teman yang cukup asik. Namanya Fahril. Namanya mirip namaku, tapi, kepribadiannya sangat jauh, dia lebih bisa beradaptasi dengan lingkungan dibanding saya yang cukup lama beradaptasi dengan lingkungan. Saya juga ketemu Anwar Luthfi. Hmm, kalau dia orangnya cukup serius, tapi juga pintar bercanda.
Saya paling ingat apa hal pertama yang saya tanyakan begitu masuk ke kelas itu. Bukan siapa wali kelasnya, bukan siapa ketua kelasnya, bukan siapa yang paling pintar disini, bukan berapa jumlah siswa dikelas ini, bukan itu semua. Tapi, “siapa nama cewek yang tadi?” (aaaah,, inget ini bener-bener buat saya malu sendiri….) Hmm, tapi, setelah itu (at least for almost two year) se gk bertanya apa-apa lagi tentang wanita itu.
About this entry
You’re currently reading “My Story,” an entry on Fajrul Akram
- Telah Diterbitkan:
- Maret 2, 2011 / 5:39 PM
- Kategori:
- Me and Myself
- Kaitkata:

5 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]